Tau Gak Sih, Kedewasaan Seseorang Itu Ada Tingkatanya Lho!

April 05, 2015 /
Ukuran dan Tingkatan Kedewasaan - Seringkali gue heran sama sejumlah makhluk yang menganggap dirinya itu manusia yang katanya udah dewasa tapi masih aja berperilaku macem balita yang maunya menang sendiri dan selalu ingin dimengerti, tanpa mau mengerti dan menerima orang lain apa adanya.

Biasanya, dan seringkali gue nemuin orang yang sering ngaku-ngaku udah dewasa dengan berkata, "dewasa itu gak di ukur dari umur tapi diliat dari sikap dan pola pikirnya."

Kurang lebih kaya gitu, omongan-omongan yang keluar semacem itu bisa elu liat ketika segelintir orang sedang beradu mulut mempermasalahkan hal yang sepele dan bener-bener gak ada gunanya buat kehidupan di masa yang akan datang.

Apalagi menyangkut yang namanya masalah personal, katakanlah masalah sepele di dalam sebuah game atau masalah lain yang sejenisnya. Gue kadang heran sama mereka-mereka ini bray.

Tujuanya mereka main game itu cari apa?
Cari temen apa cari musuh?
Memperpanjang tali silaturahmi atau uji nyali nantangin sana-sini?

Artikel Terkait Game :

Yang paling bikin gue geleng-geleng pala itu ketika mereka ini sok jago nantangin duel (berantem/tonjok-tonjokan).

Ini bukan jaman orde baru bray dimana elu bisa mainin otot sesuka elu. Jaman sekarang, otak yang lebih dominan, percuma otot gede kalo otak kecil.

Ujung-ujungnya mah jadi preman yang bisanya cuma malak anak sekolahan dan orang-orang lemah lainya sampe bego tujuh turunan.

Buat elu yang sering nyocot ngajakin orang berantem. Kalo emang elu berasa bisa berantem, mending ikut kejuaran gulat atau karate kek.

Meskipun bonyok, nama elu bakalan kecium harumnya seantero RT dan RW dimana elu tinggal bray.
Kalo gagal ikutan dan masih pengen berantem, gue saranin ketimbang adu otot, mending adu otak deh bray.

Biar begonya bisa ilang dikit, soalnya gara-gara orang bego macem elu lah, negara kita sering di begoin. Abis di begoin, ini orang bego baru sadar, terus nyolot karena udah dibegoin dan kembali nantangin ngadu otot.

Hasilnya?

Mereka yang ngebegoin kita cuma bisa ketawa ngakak aja bray, dan kalo mereka di usik pake otot, ya mereka lawan pake cara yang lebih terhormat dan bermartabak (typo, males benerin), yaitu jalur hukum.

Udah dibegoin, dimasukin bui lagi, belum nanggung malu. Aduh sumpah bego!

Awalnya, gue kira orang yang berprilaku kaya gini tuh cuma anak-anak sekolahan doang yang lagi nyari dan nunjukin jati dirinya.

Taunya, orang-orang yang udah lumayan berumur dan bisa dibilang matang dalam berpikir juga masih aja ada yang kaya gini.

Tua adalah sebuah kepastian, sedangkan dewasa adalah pilihan (Anonim)

Gue rasa, quote di atas mewakili isi dari tulisan gue kali ini bray. Gue berani bilang kaya gini karena nyatanya, sampai saat ini, setau gue dan dari apa yang gue baca, belum ditemukan standar baku kapan dan dalam usia berapa seseorang akan mencapai kedewasaan.

Hal ini dikarenakan belum adanya ukuran tunggal untuk menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Tapi bray, untungnya, ada beberapa indikator tertentu yang sedikit menunjukan tingkat kedewasaan seseorang.

Jadi elu bisa menilai diri elu sendiri dan orang-orang disekitar elu itu, udah pada dewasa atau cuma pura-pura dewasa biar dibilang gaya.

Indikator-indikator ini gue dapetin dari sebuah artikel yang dipublish oleh Ketum Tutorial pada tanggal 27 Juli 2010 dari Kabid. Humas Universitas Pendidikan Indonesia yang berjudul "Seberapa Dewasakah Kita?"

Dimana dalam artikel tersebut disebutkan beberapa faktor penentu yang bersifat "sementara" untuk mengukur tingkat kedewasaan seseorang.

Faktor-faktor penentu tersebut diantaranya adalah ;

  1. Perasaan
  2. Sikap
  3. Cara pandang
  4. Orientasi
  5. Usia (hal ini menyangkut aspek jasadiah/fisik), dan
  6. Perilaku

Dari ke-enam faktor tersebut, secara umum kedewasaan dapat dilihat dari beberapa aspek, di antaranya :


Dewasa secara fisik


Indikatornya adalah ketika organ-organ reproduksi telah berfungsi secara optimal, atau secara singkat ketika seseorang telah mencapai baligh.


Dewasa secara psikologis


Indikatornya adalah adanya kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan.


Dewasa secara sosial-ekonomi


Ditampakkan dengan kemampuan seseorang untuk mandiri, mampu membiayai kebutuhan hidup sendiri dan menangani berbagai hal dengan kemampuan sendiri.



Selain hal-hal di atas, kedewasaan juga dapat dilihat dari beberapa hal, seperti :



Kemampuan untuk ma’rifatunnafs (mengenali diri sendiri)


Orang yang telah dewasa akan mengenali siapa dirinya, untuk apa ia dilahirkan di dunia ini dan apa tujuan hidupnya. Berbeda dengan orang yang belum dewasa, kondisinya adalah kebalikan dari hal yang telah disebutkan terlebih dahulu.


Kemampuan menerima diri sendiri


Setelah mengenali diri sendiri, orang yang dewasa akan mampu memahami dirinya sehingga ia dapat menerima keadaan dirinya dan mampu menyikapi keadaan dirinya dengan baik.


Kemampuan menerima orang lain


Selain mampu menerima keadaan dirinya sendiri, orang yang dewasa juga akan mampu menerima keberadaan orang lain dengan sikap simpati atau empati yang dimilikinya.

Berbeda dengan orang yang belum dewasa, ia cenderung tidak akan dapat menerima keberadaan orang lain, terlebih jika orang tersebut berbeda karakter dengan dirinya.


Kemampuan untuk memberi pengarahan kepada orang lain


Orang yang telah mencapai tingkat kedewasaan akan dengan senang hati membagi ilmunya dengan orang lain, karena ia akan berpikir bahwa ilmu akan semakin berkembang jika ia sebarkan juga ke orang lain.

Lain halnya dengan orang yang belum dewasa, ia akan cenderung pelit akan ilmu karena khawatir merasa rugi jika ilmunya ia bagi dengan orang lain. Singkatnya, ia akan merasa takut tersaingi.


Kemampuan berpikir dan bertindak mandiri


Berani menyuruh dan melarang diri sendiri, tahu tugas dan tanggung jawab, serta mampu membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Orang yang telah mencapai kedewasaan, akan mampu menggunakan akalnya dengan baik, sehingga ia akan tahu betul mana yang benar dan mana yang tidak benar.


Indikator Tidak Dewasa


Selain mengetahui indakator kedewasaan, maka perlu pula diketahui beberapa indikator ketidakdewasaan, di antaranya ;


Emosional


Salah satu hal yang membedakan orang dewasa dengan anak-anak adalah dalam berprilaku. Anak-anak mengalami proses merasakan, bertindak, kemudian akhirnya merasakan.

Sementara orang dewasa, ia akan berpikir terlebih dahulu, bertindak, kemudian baru akhirnya ia akan merasakan.


Artinya, orang yang dewasa akan bersikap tenang, penuh pertimbangan dalam mengambil setiap keputusan, ia tidak akan terjebak oleh emosi, perasaan dan pengaruh lingkungan semata. Tidak akan ditemukan orang dewasa yang emosinya meledak-ledak tanpa terkontrol.


Egois


Egois merupakan ciri dari seseorang yang belum dewasa. Setiap orang memiliki ego, namun orang yang belum dewasa sering melampaui egonya sehingga menjadi egois, tentu saja ia tidak menyadari bahwa dirinya egois. Semakin egois seseorang, semakin jauh ia dari pencapaian kedewasaan.


Tidak konsisten


Dasar dari seseorang yang dewasa adalah konsisten. Sikap sebaliknya adalah indikator seseorang belum dewasa, artinya ketika seseorang mudah terpengaruh oleh hal-hal baru yang merusak komitmen sebelumnya, maka orang tersebut belum dapat digolongkan ke dalam orang yang dewasa.


Tidak tepat janji


Kedewasaan seseorang juga dapat diukur dari perkataannya. Bila perkataannya dapat dipegang dan dipercaya, maka kedewasaannya teruji.

Akan tetapi jika perkataan yang dikeluarkannya hanya sekedar kata tanpa bukti nyata, bahkan dengan mudah ia ingkari maka itu merupakan ciri ketidakdewasaan seseorang.


Tidak bertanggungjawab


Sebagai hamba, manusia dituntut untuk bertanggungjawab atas apa-apa yang dilakukannya, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Rasa tanggung jawab ini hanya ada dalam pikiran orang dewasa.

Ketika didapati ada orang yang bingung dengan tanggungjawabnya dan sering mencari kambing hitam untuk melimpahkan tanggung jawab ini, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan telah dewasa.


Suka bersembunyi


Setiap manusia tentu akan akan dihadapkan pada masalah dalam hidupnya, masalah-masalah yang datang tersebut tidak jarang akan muncul dalam bentuk yang sangat sulit, sehingga mencapai tahap yang sangat kritis.

Pada saat kritis, saat itu pulalah kedewasaan seseorang diuji. Orang yang belum dewasa akan memilih lari dari masalah tersebut dan bersembunyi, sementara orang yang dewasa akan mengahadapi masalah tersebut seberat apapun ia merasakannya.


Hanya merespon ketika ada paksaan


Orang yang belum dewasa adalah orang yang merespon hanya ketika ada paksaan atau tekanan. Ketika ia mendapatkan seruan yang sifatnya ajakan saja, jarang ia akan meresponnya. Ia akan merespon ketika ada imbalan yang akan diberikan kepadanya, baik itu berupa hadiah jika merespon atau sanksi jika tidak melaksanakannya.

Yang gue tekankan disini adalah kemampuan menerima orang lain bray. Menurut gue ini merupakan faktor penentu yang cukup absolut. Coba dah elu baca point tersebut berulang kali sampe elu sendiri ngerti akan makna yang terkandung didalamnya.

Kemudian elu liat sekitar dan sadarlah, kalo elu mau diterima orang maka elu harus bisa menerima orang tersebut seperti itu dan segitu adanya tanpa elu harus memaksakan kehendak elu terhadap orang lain.

Kalo elu gak bisa nerima, mustahil orang lain bakalan nerima elu, apalagi dengerin elu! Yang ada, elu cuma dianggap kentut doang. Numpang nge-bau-in orang doang dan meninggalkan kesan yang kurang menyenangkan.

Yang jadi pertanyaan adalah, berani dan bisa gak elu menerima orang lain terlebih dahulu?

Reference : Tutorial PAI-SPAI DPU (Universitas Pendidikan Indonesia)
Previous
Next Post »

Mau dapetin update-an terbaru untuk setiap artikel dan tulisan menarik dari blog Bete Gak Sih?

Subscribe aja bray!

4 komentar

Write komentar
06 April, 2015

keren, sepertinya saya sudah dewasa, hihi... ini nyindir siapa ya?

Reply
avatar
07 April, 2015

cieee yang dewasa =D
ada deh bray, entar juga kalo doi baca ini tulisan bakal keringetan dan maksain senyum

Reply
avatar
13 April, 2015

hmm, kalau dilihat saya udah cukup lah untuk kategori dewasa ini.
tapi, masih suka heran. hmm...

Reply
avatar